Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian daerah, terutama di wilayah pedesaan yang kaya akan sumber daya lokal. Di Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, kerajinan berbasis bambu telah lama menjadi bagian dari tradisi sekaligus sumber penghidupan utama masyarakat. Produk seperti anyaman, peralatan rumah tangga, hingga dekorasi berbahan bambu memiliki nilai seni dan fungsi yang tinggi. Namun, permasalahan klasik yang terus dihadapi adalah pemasaran yang masih terbatas pada cara-cara konvensional.
Menyadari tantangan tersebut, Lombok Research Center (LRC) menginisiasi Pelatihan Pemasaran dan Digital Marketing bagi UMKM Berbasis Bambu di Kecamatan Sikur. Kegiatan yang dilaksanakan pada 10 September 2025 di Classic Coffee and Resto ini bertujuan untuk membekali pelaku UMKM dengan keterampilan digital marketing, branding, hingga praktik langsung membuka toko daring di marketplace.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber dengan kompetensi berbeda namun saling melengkapi. Irwan Rosidi, seorang praktisi pemasaran, membahas strategi branding, segmentasi pasar, dan pergeseran metode pemasaran ke ranah digital. Sementara itu, Rodiman, S.Pd., membimbing peserta secara teknis mengenai cara memanfaatkan marketplace seperti Shopee. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman praktik membuat akun toko online, mengunggah foto produk, menulis deskripsi menarik, hingga menyusun strategi promosi sederhana.
Sebanyak 20 pelaku UMKM bambu dari berbagai desa di Kecamatan Sikur, seperti Montong Baan, Loyok, Kotaraja, dan Gelora, mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Mereka dibagi dalam kelompok diskusi untuk merumuskan strategi pemasaran digital sesuai karakter produk masing-masing. Hasilnya, muncul kesadaran kolektif bahwa pemasaran digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak agar produk bambu bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Beberapa kelompok menekankan pentingnya dokumentasi produk yang baik, mulai dari foto berkualitas hingga cerita di balik proses pembuatan anyaman. Ada pula yang berfokus pada pemanfaatan media sosial secara lebih aktif dengan konten menarik dan iklan berbayar. Bahkan kelompok dengan produk berukuran besar, seperti pagar bambu, tetap bersemangat untuk beradaptasi meski menghadapi tantangan pemasaran yang lebih kompleks.
Kesepakatan penting lahir dari diskusi ini, antara lain komitmen untuk bertransformasi menuju pemasaran digital, konsistensi mendokumentasikan produk, optimalisasi media sosial, serta pentingnya pendampingan berkelanjutan dari lembaga pendukung. Para pelaku UMKM juga sepakat untuk terus belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling memberi motivasi.
Hasil pelatihan ini menunjukkan bahwa dengan bimbingan yang tepat, UMKM bambu di Sikur mampu membuka diri terhadap perubahan. Dari yang semula hanya menunggu pembeli datang, kini mereka mulai berani menjangkau konsumen melalui kanal digital. Perubahan pola pikir inilah yang menjadi bekal utama dalam menghadapi era persaingan global.
Ke depan, keberhasilan pelatihan ini perlu ditindaklanjuti dengan program lanjutan seperti pelatihan fotografi produk, pengelolaan toko online, hingga strategi ekspor. Tidak kalah penting adalah membangun jejaring antar-UMKM, hotel, restoran, hingga toko oleh-oleh sebagai mitra strategis. Dengan kolaborasi yang kuat, kerajinan bambu Sikur berpotensi besar menjadi ikon lokal yang mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.
Pelatihan ini membuktikan bahwa transformasi digital UMKM bukan hal yang mustahil. Dengan semangat belajar dan kerja sama, produk bambu dari Kecamatan Sikur siap melangkah lebih jauh, mengangkat martabat ekonomi lokal, sekaligus melestarikan warisan budaya melalui kerajinan yang berkelas dunia.
Source article : https://www.lrcfoundation.com/umkm-bambu-sikur-menembus-pasar-digital-dengan-pelatihan-pemasaran-modern/

0 Comments