Pernah membayangkan desainer muda yang biasanya bergelut dengan font Sans Serif dan palet warna, tiba-tiba harus berurusan dengan metrik Conversion Rate dan Traffic FYP? Itulah pemandangan yang tersaji di Aula SMK Negeri 1 Masbagek, Lombok Timur, beberapa waktu lalu.
Bukan sekadar menggambar, para siswa-siswi Desain Komunikasi Visual (DKV) Kelas X ini sedang menerima suntikan ilmu paling up-to-date di dunia ekonomi kreatif: Pelatihan TikTok Affiliate dan Shopee Affiliate Marketing.
Acara ini bukan hanya sesi teori biasa. Ini adalah upgrade skill yang mutlak diperlukan di era digital, dipandu langsung oleh dua master lokal dari tim BDP Lombok (Bisnis Digital Praktis Lombok): Bang Rudy dan Bang Wan, yang sudah terbukti lihai bermain di pasar e-commerce. Semua peserta datang dengan satu tujuan: praktik simulasi jualan produk online berbasis afiliasi—membuktikan bahwa kreativitas DKV bisa diuangkan tanpa harus punya pabrik sendiri.
Pembuka: Visi DKV di Gerbang Digital
Suasana di
ruangan seketika hening saat sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Kaprodi
DKV Nurlaeli Susanti, M.Kom . Sosok yang visioner ini tidak sekadar membuka acara, tetapi juga
meresmikan pergeseran paradigma.
Sambutan ini
berhasil membangkitkan mood para siswa. Mereka sadar, skill visual yang selama
ini dipelajari bukan hanya modal cari kerja, tapi juga modal berbisnis mandiri.
Mereka bukan lagi sekadar pembuat iklan, mereka adalah mesin uang iklan itu
sendiri.
Materi Duet Maut: Bang Rudy dan Bang Wan Bongkar Rahasia Komisi
Panggung kemudian diambil alih oleh duo expert dari BDP Lombok. Bang Rudy yang dikenal fokus pada strategi penjualan dan konversi, serta Bang Wan yang ahli dalam urusan teknis dan riset trend viral. Keduanya membagi peran dalam membongkar rahasia komisi tanpa modal.
Sesi 1: TikTok Affiliate — Seni Berjualan Sambil Menghibur (Oleh: Bang Rudy)
Jika Shopee adalah pasar, maka TikTok adalah panggung hiburan. Bang Rudy menjelaskan bahwa kesalahan terbesar pemula TikTok Affiliate adalah mencoba menjual secara "kaku" seperti di marketplace tradisional.
"Di TikTok, orang tidak mau diiklankan. Mereka mau dihibur, diedukasi, atau bahkan melihat hal konyol. Tugas kalian, anak DKV, adalah membuat video yang orang lupa bahwa itu adalah jualan," jelas Bang Rudy sambil menampilkan beberapa contoh video afiliasi yang sukses.
Materi dari Bang Rudy fokus pada aspek funneling TikTok:
1. Struktur Video 3 Detik Pertama (Hook):
Bagaimana memastikan penonton tidak swipe video Anda. Bang Rudy menekankan
teknik storytelling visual DKV sangat diuji di sini.
2. Psikologi Pembeli TikTok: Mengajarkan cara
memicu pembelian impulsif menggunakan scarcity (stok terbatas) dan urgency
(diskon berakhir cepat) di dalam konten.
3. Memaksimalkan Keranjang Kuning: Tips teknis agar produk yang diulas langsung muncul dan mudah diakses di keranjang kuning TikTok Shop.
Sesi 2: Shopee Affiliate — Kekuatan Visual dan SEO Lokal (Oleh: Bang Wan)
Beralih ke Shopee, Bang Wan mengambil alih dengan fokus pada strategi yang lebih terstruktur dan berbasis niat membeli (intent-based).
"Jika di TikTok kita jadi entertainer, di Shopee kita jadi Reviewer Terpercaya yang Jago SEO Lokal," kata Bang Wan.
Bang Wan
menjelaskan bahwa keahlian visual DKV dapat diaplikasikan sempurna di Shopee
melalui kualitas review produk yang meyakinkan. Materi Shopee berfokus pada:
1. Membuat Review Jurnalistik dengan Visual DKV:
Bukan sekadar memuji produk, tapi memberikan ulasan detail dengan foto atau
video yang diambil dari sudut pandang pembeli profesional—lighting bagus, angle
tepat.
2. Aplikasi SEO untuk Review Shopee: Cara
menggunakan long-tail keyword (kata kunci panjang) yang disisipi kata-kata
lokal (misal: "Sandal jepit pria tahan air untuk ke pantai Lombok")
di judul dan deskripsi review agar mudah ditemukan di Google maupun kolom
pencarian Shopee.
3. Pemanfaatan Platform Tambahan: Menyebarkan link
afiliasi Shopee di Instagram Stories, Facebook, atau bahkan di Blog,
memanfaatkan desain DKV untuk membuat banner promosi yang efektif.
Sesi Praktik Gabungan: Uji Kecepatan DKV
Setelah bombardir teori yang memacu adrenalin, sampailah pada bagian yang paling ditunggu: Sesi Praktik Simulasi. Para siswa Kelas X DKV segera mengeluarkan smartphone mereka—senjata utama para afiliator.
Di bawah bimbingan langsung Bang Rudy dan Bang Wan, mereka memulai simulasi tahap demi tahap:
1. Pendaftaran dan Setup Akun: Memastikan akun
afiliasi Shopee dan TikTok siap. Bang Wan menekankan pentingnya melengkapi data
pembayaran secara benar agar komisi cair tanpa hambatan.
2. Memilih Produk Target Simulasi: Mereka diajak
meriset produk yang sedang tren dan relevan dengan audiens remaja lokal.
3. Produksi Konten Kilat (Fast Content Creation): Siswa DKV langsung menggunakan kemampuan editing mereka. Mereka mempraktikkan bagaimana membuat satu video TikTok berdurasi 15 detik dengan hook yang kuat (ala Bang Rudy), sekaligus menghasilkan satu set foto review yang estetik dan informatif untuk Shopee (ala Bang Wan).
Sesi tanya jawab yang menyertai praktik berjalan sangat interaktif. Siswa tak hanya bertanya soal teknis, tetapi juga etika bisnis digital.
"Gimana cara menghadapi kalau produk afiliasi saya ternyata kurang bagus, Bang?" tanya seorang siswi.
Bang Wan menjawab, "Di dunia afiliasi, kejujuran adalah marketing terbaik. Kalau produknya kurang bagus, jujur saja. Ulas kelemahannya, tapi tawarkan solusi produk lain. Itu namanya membangun kepercayaan audiens. Kepercayaan itu emas, komisi itu perak."
Sementara itu, Bang
Rudy diserbu pertanyaan teknis tentang jam posting terbaik dan cara menghindari
shadowban di TikTok. Praktik nyata ini membuat pemahaman siswa langsung
tertanam, siap diimplementasikan.
Masa Depan DKV dan Komisi Pertama
Pelatihan ditutup bukan dengan janji manis, tetapi dengan tantangan. Setiap siswa kini memiliki "toko" simulasi sendiri, baik melalui TikTok keranjang kuning mereka maupun link Shopee yang tersebar di media sosial. Tugas mereka ke depan adalah: Pecahkan Komisi Pertama Anda!
Acara ini menegaskan bahwa SMK Negeri 1 Masbagek tidak hanya mencetak lulusan yang siap dipekerjakan, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja sendiri. Lulusan DKV yang mahir mendesain kini juga menjadi digital entrepreneur yang mahir mencari uang.
Kolaborasi antara SMK Negeri 1 Masbagek dan Tim BDP Lombok adalah contoh nyata bagaimana lembaga pendidikan lokal beradaptasi dengan kecepatan revolusi digital. Para siswa ini telah beralih dari sekadar menjadi penikmat teknologi, menjadi pelaku aktif ekonomi digital.
Tunggu saja, beberapa bulan ke depan, mungkin salah satu siswa Kelas X DKV inilah yang akan viral di FYP Anda, menjual sandal jepit dengan cinematic yang mengalahkan iklan produk high-end. Lombok Timur, di bawah bimbingan Bang Rudy dan Bang Wan, sedang menyiapkan generasi digital affiliate berikutnya. Dan itu, sungguh patut diacungi jempol.

0 Comments